Amerika Serikat dan Uni Soviet saling bersaing memecahkan ketinggian menuju luar angkasa selama Perang Dingin berlangsung. Kini sesuatu yang tampaknya sama sedang berlangsung di Asia.
Dalam dua bulan terakhir, Korea Utara dan Korea Selatan sukses meluncurkan satelit ke orbit luar angkasa untuk pertama kalinya. Sementara itu, Iran mengklaim telah mengirim seekor monyet ke luar angkasa dan kembali dalam keadaan selamat. Aktivitas tersebut telah berkembang menjadi sebuah tren, demikian menurut para ahli.
“Saya pikir ada sesuatu yang signifikan di balik lomba luar angkasa Asia ini,” kata Joan Johnson-Freese, profesor hubungan keamanan nasional di Naval War College.
Roket dan rudal
Satelit Korea Utara diluncurkan bulan Desember 2012, sementara tetangga saingannya, Korea Selatan merayakan peluncuran jarak jauhnya pada 30 Januari. Iran mengumumkan kesuksesan misi peluncuran monyetnya pada 28 Januari, meski beberapa peneliti meragukan hal tersebut, yang masih belum dapat diverifikasi oleh pihak intelijen Barat.
Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya mengutuk aksi peluncuran yang dilakukan oleh Korea Utara dan Iran tersebut, dengan anggapan bahwa aksi yang mereka lakukan percobaan terselubung untuk teknologi rudal balistik yang dilarang pengembangannya bagi kedua negara tersebut.
Nyaris tidak ada perbedaan antara satelit yang melluncurkan roket dengan pemikul hulu ledak intercontinental rudal balistik, yang mencapai suborbit luar angkasa dalam perjalanannya menjauhi permukaan bumi. Resolusi larangan disahkan oleh PBB untuk menjaga teknologi dari tangan Korea Utara, yang memiliki senjata nuklir, dan Iran, yang ditakutkan akan menjadi ancaman bagi mereka.
Dua negara Asia yang paling padat penduduknya juga telah “meregangkan otot” teknologi ruang angkasanya baru-baru ini. Sejak akhir November, Cina dan India telah melakukan percobaan rudal pertahanan, yang juga menggunakan teknologi yang sama dengan yang dibutuhkan untuk membawa keluar satelit, catat Johnson-Freese.
“Semua teknologi ini saling menguntungkan bagi aspirasi militer dan warga sipil,” ujarnya kepada Space.com.
Cina memimpin jalan
Iran mengklaim peluncuran monyetnya akan membantu membuka jalan bagi misi perjalanan luar angkasa manusia, yang diharapkan bisa terwujud di Iran pada 2020. Ambisi-ambisi tersebut sebagian besar merupakan jawaban dari prestasi yang dilakukan Cina, ujar Johnson-Freese.
Pada tahun 2003, Cina menjadi negara ketiga (setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet/Rusia) meluncurkan manusia ke luar angkasa. Dan tahun lalu, Cina melepas pesawat berawak di orbit bumi, hal tersebut menjadi misi demonstrasi yang dapat dijadikan sebagai fondasi anggota awak kapal ruang angkasa untuk turun ke bumi.
“Mereka berpikir bahwa mereka tidak bisa membiarkan Cina melangkahi kemampuan teknologi yang mereka miliki,” Johnson-Freese berkata mengenai pejabat India. “Dan konotasi dari perjalanan luar angkasa manusia adalah kecanggihan teknologi.”
Kesuksesan perjalanan luar angkasa Cina tersebut telah menjadikan negara dan para pemimpinnya sebuah pencapaian hebat baik di tingkat regional mau pun dunia — sebuah fakta bagi kemenangannya atas India dan Iran, ujar Johnson-Freese. Negara-negara (dengan ambisi) tersebut memiliki keseriusan atas misinya tersebut sebagai sesuatu yang penting, dan jika pencapaiannya sukses, hal tersebut akan memperlebar pendek atau jauhnya jarak dalam persaingan (teknologi).
“Mereka (negara-negara Asia) tahu bahwa mereka tidak bisa menyalip Cina, tapi mereka harus tetap terlihat sebagai negara yang aktif terlibat (dalam persaingan teknologi),” ujar Johnson-Freese.
yahoo






0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !